Tampilkan postingan dengan label promosi kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label promosi kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2018

PECAH!! KESERUAN JAMBORE KADER KESEHATAN PUSKESMAS PASIRIAN


Hari Kesehatan Nasional (HKN) merupakan momentum penting untuk menggalakkan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Dalam rangka memeriahkan Hari Kesehatan Nasional ke 54 tahun 2018, Puskesmas Pasirian memeriahkan dalam bentuk kegiatan Jambore kader kesehatan pada hari Sabtu, 24 November 2018. Jambore yang dikemas dalam capacity building terdiri dari berbagai lomba diantaranya lomba paduan suara Mars Desa Siaga dan Mars gerbangmas siaga, lomba senam poco-poco, lomba penyuluhan kesehatan,  lomba Cipta menu kudapan PMT berbahan dasar pangan lokal serta lomba Cipta minuman toga.






Seluruh peserta terdiri dari ketua TP PKK desa dan kader kesehatan dari 7 desa di wilayah kerja puskesmas Pasirian dengan jumlah total 120 peserta. Acara dimulai dengan upacara pembukaan, pembacaan petunjuk teknis perlombaan dan dilanjutkan dengan pengundian nomor urut tampil. Dalam sambutannya, dr. Miftachul Ulum selaku kepala UPT Puskesmas Pasirian sangat mengapresiasi para kader yang selalu setia berjuang bersama untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. “Tanpa kader Puskesmas bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa” ungkap beliau saat membuka acara tersebut secara resmi.


Sebelum setiap perlombaan dimulai semua peserta diajak untuk melakukan senam poco-poco bersama di gedung pertemuan Puskesmas Pasirian setelah melakukan senam bersama semua peserta melakukan cek suara dengan menyanyikan mars gerbangmas siaga dan Mars Desa Siaga.







Pada hari tersebut setiap peserta tampil berbeda dari biasanya dengan tata rias dan kostum yang unik.Tidak ketinggalan Ibu ketua TP-PKK desa juga turut serta sebagai peserta aktif di beberapa perlombaan. Lomba pertama dimulai dengan lomba paduan suara, setiap peserta terdiri dari 15 orang dan menyanyikan dua lagu yakni Mars Gerbangmas Siaga dan Mars Desa Siaga. Tujuan dari lomba paduan suara ini ada untuk membumikan mars Desa Siaga dan Mars Gerbangmas Siaga dalam berbagai pertemuan kesehatan atau forum masyarakat desa. Keluar sebagai juara pertama dalam lomba tersebut ialah Desa Pasirian yang sangat apik dalam membawakan kedua lagu tersebut.




Lomba kedua yakni lomba senam Poco-Poco. Senam Poco-Poco ini dipilih karena pada perayaan Asian Games pada beberapa waktu lalu menorehkan rekor dunia senam Poco-Poco dengan peserta terbanyak. Tujuan utama dari lomba ini adalah mengaktifkan kelompok olahraga yang dibina oleh kader kesehatan di masing-masing desa. Desa Selok Anyar memenangkan lomba tersebut dengan kostum warna hijau dan kuning nampaksegar dipandang, selain menjadi juara 1 berkelompok Selok Anyar juga memenangkan kategori perorangan.



Sebagai Kader Kesehatan tentunya menjadi perpanjangan tangan petugas kesehatan di Puskesmas, untuk itu Lomba Penyuluhan Kesehatan menjadi mata lomba yang paling ditunggu-tunggu karena setiap Desa diwakili oleh satu orang kader. Adapun tema penyuluhan merupakan isu-isu strategis di bidang kesehatan. Desa Condro menggondol Juara 1 dengan Tema GERMAS.









Lomba cipta Menu Kudapan PMT berbahan dasar pangan lokal merupakan lomba yang menggali kreatifitas para kader dalam memanfaatkan pangan lokal bergizi tinggi untuk diolah menjadi makanan lezat dan disukai oleh balita. Hasil olahan sangat bervariasi dan menggugah selera, kelor menjadi bahan andalan yang diangkat oleh beberapa desa. Desa Sememu sebagai juara 1 menyulap tahu dan kelor menjadi Tahu Fantasi.


Pemanfaatan pekarangan rumah untuk Toga (taman obat keluarga) memberikan manfaat estetika dan peningkatan kesehatan keluarga. Selain itu, Toga juga dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Oleh karena itu lomba cipta minumanberbahan dasar TOGA perlu diangkat agar kader dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar menjadi olahan minuman yang menyehatkan. Kriteria utama yang dinilai adalah komposisi bahan, manfaat, dosis, tampilan dan pemaparan. Minuman Bandrex dari Desa Condro dinobatkan sebagai juara 1. Minuman Bandrex merupakan hasil olahan darijahe, sereh dan kayu manis dapat menghangatkan badan dan menurunkan tekanan darah. Sehingga Desa Condro didapuk sebagai Juara umum dalam jambore kader tahun ini.
Sebagai penutup, dr. Ulum menyampaikan bahwa menang kalah bukan prioritas, tetapi rasa kekeluargaan kita lebih penting dari segalanya.









Selamat Hari Kesehatan Nasional
Aku Cinta Sehat
Ayo Hidup Sehat Mulai dari Kita

_promkespuspa_

Kamis, 08 Februari 2018

WUJUDKAN MASYARAKAT SIAGA, PUSKESMAS PASIRIAN LATIH 70 PENGURUS DESA SIAGA





Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia  masih tinggi dan penyebab kematian Ibu dan Bayi baru lahir sangat komplek. Beban ganda karena penyakit lama, kecelakaan, penyakit endemis, bencana alam menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama-sama bukan hanya insane kesehatan saja. Masih banyaknya kasus kematian ibu dan anak di Kabupaten Lumajang merupakan masalah yang tak kunjung usai, disamping itu kasus penyakit menular mulai bermunculan kembali setelah lama tak nampak. Penyakit tidak menular kian hari kian meningkat memerlukan uluran tangan dan aksi nyata semua pihak. Selain itu Lumajang merupakan Kabupaten yang memiliki potensi bencana yang paling komplit mulai dari gunung meletus, gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dsb.
Untuk itu perlu adanya perubahan perilaku untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, perlu peningkatan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat, perlu adanya kemandirian dari masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan dan kegawatdaruratan/ penanggulangan bencana melalui pengembangan Usaha kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) serta surveilans berbasis masyarakat.
Konsep tersebut merupakan konsep dari Desa Siaga. Desa Siaga dikembangkan sejak tahun 2006 yang dijadikan sebagai program yang dilaksanakan untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan berbasis pemberdayaan dan upaya mendekatkan akses layanan kesehatan melalui pengembangan Pos kesehatan desa (Poskesdes). Saat ini Desa Siaga berkembang lebih luas, yakni menyiapkan masyarakat yang aktif dan mandiri mengenali masalah serta menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di desa masing-masing.
Untuk itu Puskesmas Pasirian menyelenggarakan pelatihan bagi tujuh puluh pengurus desa siaga yang diwakili oleh sepuluh orang dari masing-masing desa yang berjumlah tujuh desa. Pelatihan tersebut dilaksanakan dua hari yakni tanggal 06 dan 07 Februari 2018 di Gedung Pertemuan Puskesmas Pasirian. Tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengurus desa siaga dalam menyelenggarakan desa siaga.

Sambutan Sekretaris Kecamatan

Pemaparan Profil Desi oleh Kepala Puskesmas

Acara dibuka oleh Sekretaris Kecamatan Pasirian selaku pengurus Pokjanal Desa Siaga tingkat Kecamatan. P. Solikin (nama akrab beliau) dalam sambutannya berharap semua desa menjadi desa siaga yang berkualitas mengingat status akreditasi Puskesmas Pasirian sudah mencapai Utama, sehingga desa siaga paling tidak harus bisa mencapai paling tidak strata Purnama. 

Kepala Puskesmas Pasirian dr. Miftachul Ulum memaparkan profil Desa Siaga di Wilayah kerja Puskesmas Pasirian masih mayoritas Pratama dan hanya satu desa yang telah mencapai Purnama yakni Desa Selok Awar-Awar. Target Renstra Provinsi Jawa Timur menyebutkan bahwa Desa Siaga Purnama/Mandiri harus 14% dari jumlah desa siaga, namun kita berharap semua desa bisa PURI (Purnama/Mandiri). Harapannya setelah pelatihan ini pengurus desa siaga lebih aktif lagi menggerakkan Desa Siaga sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat.

Setelah paparan Kepala Puskesmas, peserta diminta untuk menuliskan harapannya dan menempelkannya di Pohon Harapan. Banyak sekali harapan dari peserta yang diharapkan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Rata-rata mereka menginginkan dapat menyelenggarakan Desa Siaga Lebih Baik. Kesimpulan dari himpunan harapan tersebut adalah menginginkan desa siaganya menjadi purnama/mandiri sehingga derajat kesehatan masyarakat juga meningkat.

 
Materi Administrasi dan Manajemen Desa Siaga oleh Bidan Suniyah

Materi Permasalahan Kesehatan Ibu dan Anak oleh Bidan Nurul Indah


 Materi yang diberikan sangat menarik dan merupakan poin penting dalam penyelenggaraan Desa Siaga. Pada hari pertama dimulai dengan materi administrasi Desa Siaga yang disampaikan oleh Bidan Suniyah yang telah menjadi bidan desa selama tujuh belas tahun di Desa Madurejo. Beliau menyampaikan manajemen dan administrasi yang dibutuhkan dalam desa siaga serta memberikan contoh pada peserta dan peserta langsung mempraktekkannya. Materi kedua disampaikan oleh Bidan Nurul Indah Hidayati yang juga berpengalaman membina Desa Siaga Sememu hingga menjadi Desa Siaga percontohan di Kabupaten Lumajang pada saat awal berdirinya Desa Siaga. Beliau memaparkan masalah kesehatan ibu dan anak sebagai latar belakang terbentuknya Desa Siaga.
Materi P4K oleh Bidan Yuyun Setyaningsih

Materi Donor Darah oleh dr. Lya Aristini

Materi ketiga disampaikan oleh Bidan Yuyun Setyaningsih, yang memaparkan konsep P4K yakni Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi. Setelah diberikan materi P4K ada rencana tindak lanjut yang harus dilakukan oleh peserta yakni pendataan Ibu Hamil dengan stiker P4K, Pendataan Ibu Nifas dengan Kontrasepsi Pasca Persalinan, Data Ibu Hamil dengan ambulan pengantar, data ibu hamil yang diperiksa darah serta calon pendonornya, dan yang terakhir adalah data ibu hamil dengan tabungan bersalin. Materi terakhir dihari pertama ditutup oleh dr. Lya Aristini yang menyampaikan pentingnya kegiatan donor darah dalam penyelenggaraan P4K dan Desa Siaga. Peserta sangat antusias mengikuti tahapan kegiatan di hari pertama terbukti dengan diajukannya banyak pertanyaan dari peserta. Panitia menyiapkan papan “JAWARA” untuk meningkatkan keaktifan peserta yakni setiap peserta yang bertanya atau menjawab pertanyaan mendapatkan poin, poin terbanyak akan mendapatkan doorprise.

 

Penyampaian Materi Siaga Bencana oleh dr. Syaiful Ihsan
Pada hari kedua materi pertama disampaikan oleh dr. Syaiful Ihsan dengan Materi Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana dalam Penyelenggaraan Desa Siaga. Beliau menekankan pada kegiatan pra bencana untuk mengurangi dampak kerugian akibat bencana. Hal yang sangat perlu dilakukan adalah membentuk struktur kebencanaan dan membuat peta rawan bencana sehingga penanganan pra bencana dapat dilakukan dengan baik. Beliau juga memberikan contoh alur pelaksanaan rencana kontinjensi bencana sehingga masyarakat lebih siap siaga dalam menghadapi ancaman bencana.

Penyampaian Materi PPGD oleh dr. Bagas
Materi kedua disampaikan oleh dr. Bagas yang merupakan dokter internship alumni FK UGM. Beliau memberikan materi terkait Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) yang langsung dipraktekkan oleh peserta sehingga ilmu yang diberikan dapat dilaksanakan langsung oleh peserta pelatihan. kemudian dilanjutkan dengan materi Triase dan Penyelamatan Korban oleh dr. Fendi yang juga dokter internship. dr. Fendi memberikan materi prioritas penyelamatan korban jika ada bencana dengan konsep triase, yakni Korban bencana diberi tanda dengan gelang dengan warna yang berbeda yakni gelang hitam untuk korban meninggal dunia, gelang merah untuk korban luka atau cedera berat, gelang warna kuning untuk korban luka atau cedera sedang, gelang warna hijau untuk korban luka atau cedera ringan. Selain itu beliau juga mempraktekkan cara evakuasi korban bencana menggunakan tandu sederhana hingga ke ambulan. 

Penyampaian Materi Triase oleh dr. Fendi

Pelaksana kegiatan ini, Moh. Riyan Basofi, S.KM menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas desa siaga di Wilayah Kerja Puskesmas Pasirian. Pada tahun 2017 kita telah berusaha meningkatkan kelembagaan dan keterlibatan lintas sektor yang ditandai dengan terbentuknya Pokjanal Desa Siaga Kecamatan dan Forum Masyarakat Desa di Semua desa. Pada tahun 2018 ini kita berharap desa siaga sudah berjalan dan memperbaiki kualitasnya sehingga fokus kegiatan pada tahun ini ada peningkatan skill pada pengurus Desa Siaga sehingga Desa Siaga dapat berjalan dengan baik. Kegaiatan ini melibatkan semua lintas program UKM dan UKP serta lintas sektor terkait. sehingga ke depan Desa Siaga ini dapat berjalan sesuai dengan Petunjuk Teknis yang telah ada.
__Promkes-Puspa__

Senin, 20 Maret 2017

Mengenal Pubertas Sejak Dini (Kesehatan Reproduksi Remaja)

Menyinggung masalah pubertas secara terbuka akan dinilai masyarakat umum sebagai hal yang saru atau dalam Bahasa Indonesianya adalah tidak pantas, terlalu tabu.
Lantas apa yang terjadi apabila anak-anak yang menginjak usia remaja awal ini tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni?
Ibarat sedang akan berperang namun tidak memahami medan yang akan dihadapi.
Tentu bisa jadi remaja kita akan salah mengambil arah dan justru terjerumus kepada hal yang tidak diinginkan kita semua, terutama para orang tua.

Berdasarkan data rekapitulasi KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) Puskesmas Pasirian pada tahun 2016 diketahui telah ada 15 kasus kehamilan diluar nikah dan 25 remaja usia 10-18 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah dimana 68% dari 25 remaja tersebut adalah remaja yang mengenyam bangku pendidikan di sekolah. Hal tersebut merupakan masalah kesehatan pada remaja yang perlu diselesaikan dan kemudian dilakukan pencegahan.

Upaya pencegahan yang dilakukan Puskesmas Pasirian adalah dengan mengintensifkan kegiatan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) mengenai KRR di 44 sekolah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pasirian. Kegiatan seperti ini bermanfaat sebagai wadah diskusi bagi remaja agar mereka tidak terjerumus kepada hal-hal yang dapat merugikan. Diskusi dan materi yang diberikan kepada remaja tentu berbeda disesuaikan dengan usia mereka. Untuk remaja dengan usia 10-12 tahun (SD kelas 4, 5 dan 6) diberikan materi Pubertas saja agar mereka siap dan tidak bingung/kaget dalam menghadapi pubertas yang akan dialami sedangkan remaja 13-18 tahun (SMP dan SMA) diberikan tambahan materi yaitu Seks Pra Nikah, Kehamilan Tidak Diinginkan, Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) serta materi HIV/AIDS. Materi yang diberikan terbilang lebih banyak karena pada usia tersebut remaja cenderung telah mengenal Napza ((Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) dan mulai mencoba memiliki hubungan dengan lawan jenis seperti pacaran.

Diskusi yang ada juga sangat berbeda satu sama lain antara siswa SD dengan siswa SMP atau SMA. Siswa SD cenderung lebih banyak menanyakan hal-hal yang mendasar terkait pubertas. Seperti...
  • Mengapa kita harus siap dengan pubertas?
  • Mengapa perempuan menstruasi?
  • Mengapa laki-laki memiliki jakun?
  • Bagaimana apabila kita menstruasi lebih dari 7 hari bahkan sampai 10 hari?
  • Apakah bermain dengan laki-laki tidak boleh? Kan cuma bermain...
  • dan pertanyaan-pertanyaan "polos" lainnya
Sedangkan diskusi KRR dengan remaja usia SMP-SMA lebih spesifik pada Infeksi Menular Seksual, Mitos dan fakta mengenai reproduksi remaja dan Napza. Seperti...
  • Apakah masturbasi/onani itu dapat mengurangi kesuburan?
  • Mengapa ganja ilegal padahal tidak menyebabkan kematian (overdosis) seperti obat-obatan?
  • Apakah orang yang cukur rambut di tukang cukur rambut dan kemudian terluka oleh pemotong rambut yang tidak steril (mengandung HIV) dapat tertular HIV?
  • Bagaimana caranya memberi nasihat kepada teman yang suka nonton film porno?
  • Apa tindakan pencegahan yang dilakukan Puskesmas terhadap adanya Napza di kalangan remaja?
  • dan pertanyaan-pertanyaan "cerdas" lainnya
Kami sebagai tim KRR sangat senang sekali dengan antusiasme para peserta sehingga diskusi-diskusi yang kami selenggarakan dapat memberikan dampak positif dan dapat mengurangi angka masalah kesehatan remaja di Pasirian. Tidak lupa kami juga selalu menanamkan bahwa remaja/pemuda adalah penerus bangsa, masa depan ada di tangan mereka. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan rasa tanggung jawab terhadap orang tua, keluarga, dan bangsa negara. Dengan remaja yang sehat secara fisik, sosial, mental, psikis dan moral maka mereka akan lebih mudah meraih masa depan yang cerah.




-Adila

Kamis, 26 Januari 2017

Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren, melatih santri proaktif mengenali dan mencari solusi masalah kesehatan di Pesantren


 

Pemberdayaan masyarakat di Pondok Pesantren merupakan upaya fasilitasi, agar warga pondok pesantren mengenal masalah yang dihadapi, merencanakan dan melakukan upaya pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan setempat. Upaya fasilitasi tersebut diharapkan pula dapat mengembangkan kemarnpuan warga pondok pesantren untuk menjadi perintis/pelaku dan pemimpin yang dapat menggerakkan masyarakat berdasarkan asas kemandirian dan kebersarnaan. Bentuk pemberdayaan pada pondok pesantren berupa Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).
Kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan Poskestren, lebih diutamakan dalam hal pelayanan promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan), tanpa mengabaikan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan), yang dilandasi semangat gotong royong dengan pembinaan oleh Puskesmas setempat. Pondok Pesantren merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan keagamaan yang tumbuh dan berkembang dari oleh dan untuk masyarakat yang berperan penting dalam pengembangan sumber daya manusia, diharapkan para santri dan para pernimpin serta pengelola pondok pesantren tidak saja mahir dalam aspek pembangunan moral dan spiritual dengan intelektual yang bernuansa agamis, namun dapat pula menjadi penggerak/motor motivator dan inovator dalarn pembangunan kesehatan, serta menjadi teladan dalam berperilaku hidup bersih dan sehat bagi masyarakat sekitar.


Pondok Pesantren Al-Haromain Selok Anyar merupakan pesentren yang sedang digarap oleh Puskesmas Pasirian agar menjadi pesantren yang mandiri di bidang kesehatan. Kader kesehatan dalam pondok pesantren disebut Santri Husada. Santri Husada merupakan perwakilan dari santri yang dibina khusus untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan pondok pesantren.
Santri Husada di Poskestren Al-Haromain selalu antusias mengikuti setiap pertemuan dan pembinaan yang dilakukan selama ini. Mereka juga dibekali untuk melakukan survei mawas diri (SMD) yang meliputi survei kesehatan lingkungan pesantren dan survei pada santri untuk menemukan masalah yang ada di pesantren.

Pondok Pesantren Al-Haromain Selok Anyar Pasirian

   Jumat, 16 Desember 2016 hasil SMD tersebut dimusyawarahkan bersama-sama dalam acara Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren (MMPP). Acara MMPP dihadiri oleh pengurus santri putra dan putri, santri husada dan pengelola program promkes Puskesmas Pasirian. Dimulai dengan pengenalan MMPP dan teknis pelaksanaannya oleh Mas Riyan Basofi, dilanjutkan pemaparan hasil SMD oleh Farid (santri husada), kemudian pemilihan prioritas masalah yang dipimpin oleh Khori (santri husada). Terakhir Mbak Hana (santri husada) memimpin mencari alternatif pemecahan masalah dari setiap prioritas masalah yang telah dipilih oleh peserta MMPP.
            Kedepan santri husada merencanakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesehatan di pondok pesantren. Salah satu kegiatannya adalah menyusun jadwal piket harian dan mengoptimalkan kegiatan jumat bersih dan olah raga rutin tiap minggu.